DALANG DATANG, PENGANTIN HILANG
Sebuah utopia mengawali tulisan M. Malik pada Rubrik Khazanah Pikiran Rakyat 17 November 2007. Ia berbicara tentang sebuah kerinduan akan apresiasi dan kemasan yang begitu sempurna dari wayang golek. Dan kesempurnaan itu seolah tampak pada dalang-dalang berpengalaman (baca: tua), seperti Asep Sunandar Sunarya, Dede Amung, Ade Kosasih dan generasi sejamannya. Sebagai seorang pencinta Wayang Golek, ia mungkin kecewa, karena tidak ditemukannya dalang-dalang muda yang mampu memberikannya pengalaman baru yang memperkaya batinnya. Sekarang ia tidak merasakan kedalaman pemikiran filsafat seperti yang Ia dapatkan dari Dede Amung, megahnya garapan Ade Kosasih, atau antawacana dari Asep Sunandar Sunarya.
Dengan sedikit perhitungan statistik, M. Malik menyatakan, dari begitu banyaknya dalang, tetap saja yang laris di pasaran adalah dalang-dalang yang telah disebutkan di atas. Saya berusaha sepakat, bahwa dunia pedalangan di Jawa Barat memang perlu berintropeksi melalui sebuah cermin besar globalisasi, dan dalang-dalang seperti Asep Sunandar dan kanca-kanca seangkatannya mungkin satu dari seribu yang tetap tampil memikat dan tetap “seksi”. Dengan bahasa lain, kalau demikian adanya, sampai kapan dunia pedalangan kita akan tetap bertahan? Jika para penerusnya, tidak mampu berkreasi dan menjadi “seksi”.
Kalau M. Malik berusaha menyoroti para dalang – terutama dalang muda – untuk berinstropeksi, mungkin saya sedikit mengambil sudut yang berbeda. Sudut sebuah rumah sempit dengan televisi 14 inch yang di dalamnya tertayang sebuah acara berjudul “Mamamia”, sudut kelas ketika para siswa belajar bahasa Inggris sambil berbisik-bisik tentang Geng Motor, sudut sebuah kantor dinas kebudayaan dengan tumpukan proposal di mejanya, atau mungkin sudut sebuah kios tanaman hias yang semakin digandrungi. Dengan kata lain, apresiator dan fasilitator.
Pertama, kita berbicara tentang apresiator. Dalam tingkatan yang paling ekstrem, kita bisa menyaksikan, bagaimana anteng nya seorang anak menyaksikan Avatar berpetualang. Ibu-ibu, sambil membeli sayuran, asyik memperbincangkan – juga menyayangkan – aktor kesayangannya Roy Marten kembali terjerat kasus Narkoba. Sekelompok masyarakat lainnya dengan hati berdebar-debar, siap melahap apapun, sinetron, film kartun, sepakbola, iklan, teknologi, Informasi, terlebih lagi, nasi.
Masyarakat memang penggila hiburan, dan sebagian besar tidak pilih-pilih, karena mungkin tidak ada pilihan. Toh, bila mungkin pilihan itu ada, seperti yang dilakukan Iman soleh dengan menciptakan CCL, atau sebuah komunitas di Sukatani Purwakarta dengan Kampung Peuyeumnya, atau Acep Zamzam Noor dengan komunitas Azan-nya, kita bisa saksikan berkerumunnya orang-orang, dari mulai anak-anak sampai pedagang kaki lima berbicara hal serupa layaknya menonton sinetron.
Hal itu terbukti, ketika dua bulan silam diadakan sebuah pagelaran wayang golek di sebuah halaman yang tidak begitu luas, tepatnya di CCL. Masyarakat berkerumun dan bersilaturahmi, menemukan suasana baru yang tidak dirasakannya ketika menonton film james bond di kamarnya, pedagang-pedagang kaki lima menambah penghasilannya dengan hati gembira, karena terhibur oleh artistik panggung dan penampilan prima seorang dalang muda, yang tidak mereka temukan di pinggir jalan pada siang hari.
Artinya, para dalang muda ini perlu ruang, perlu waktu, agar benang merah kebudayaan seperti yang diutarakan oleh Saini KM bisa terwujud. Di titik inilah pentingnya apresiator, yang memuji, memaki, menggurui, bertepuk tangan, tertawa, agar mereka menemukan inspirasi baru yang mungkin tidak kita duga sebelumnya. Selama ini mereka tidak berkembang, karena dari satu kali tampilannya, ia sudah mendapat stempel “Taklid” pada punggungnya, mungkin untuk seumur hidupnya.
Ketika para dalang muda mengharapkan apresiator, apresiator mengaharapkan fasilitator. Fasilitator sebenarnya orang nu boga hajat, sepasang pengantin yang nanggap Wayang golek, yang memberikan ruang, waktu dan apresiator untuk dalang muda kita, yang memberikan peluang kepada mereka untuk berkarya, untuk gagal, untuk memberinya modal awal. Pengantin pria yang bahagia tetapi sedikit gelisah itu adalah pemerintah dan pengantin wanita yang pemalu itu adalah pelaku bisnis.
Dalam sebuah acara pelatihan manajemen seni tradisi yang diadakan Disbudpar pekan lalu, Kadisbudpar H.I. Budhyana mengatakan bahwa pemerintah hanya sebagai fasilitator, dan seniman-seniman diharapkan mampu bangkit dengan membenahi sistem manajemen di paguyuban atau lingkung seninya masing-masing. Beliau juga mengatakan “Saya salut dengan perkembangan agama, tingali di unggal RT, pasti aya masjid.” Peserta pun terkesima seolah mengamini, memang demikianlah adanya. Dengan sedikit berapi-api beliau menambahkan, “7,5 miliar mahi keur naon? Lihat Bali, pemerintah menganggarkan 125 Miliar untuk budparnya.” Peserta menghela nafas panjang, karena dengan demikian, wayahna para dalang muda kita harus bersabar, rupa-rupanya fasilitator kita masih terbentur masalah waragad (dana).
Lantas dimanakah pasangan pengantin lelaki? para pelaku bisnis? Mungkin mereka sedang bersolek, mempercantik diri melalui pariwara televisi, situs Internet atau Billboard di tengah kota. Hotel, restoran, cafe, Mall, toko buku adalah sebuah ruang publik potensial. Tapi lagi-lagi, para pelaku bisnis beranggapan bahwa kesenian tradisional tidak praktis, ribet, dan yang paling penting bagi mereka, terlalu mahal. Sebuah hotel atau restoran memang perlu nuansa Etnis, seperti alunan musik instrumen degung atau kacapi suling yang bisa kita dengarkan ketika naik lift di sebuah hotel bintang lima di Bandung, tapi itu semua bisa didengar melalui kaset atau CD, bukan pagelaran “hidup”. Dalam benak mereka mungkin timbul pikiran, CD bajakan hanya lima ribu rupiah, pagelaran wayang golek sedikitnya menghabiskan lima juta rupiah. Timbulah kesenjangan baru, karena jalan dan kesepakatan tidak bertemu, karena Industri seni kurang mengenal MOU.
Mungkin sudah saatnya mempertemukan sepasang pengantin ini dan bersilaturahmi kembali dengan para dalang muda kita, toh pedagang kaki lima saja bisa berbahagia, kenapa pelaku bisnis menengah ke atas tidak? Dan bukankah pemerintah juga ibarat dalang, yang dengan keterampilannya memainkan wayang, mengatur ritme, dan membuat lakon yang dilakoni dalang-dalang muda tampil lebih memikat di hadapan kita, para apresiator.


Komentar terakhir
hirup